Image

ulang tahun desa kertajaya

ulang tahun desa kertajaya
WAYANG DI ULANG TAHUN DESA

SAMBUTAN KETUA BPD DESA KERTAJAYA  PADA ACARA ULTAH DESA
ibingan di nayuban ultah kertajaya panawangan
Pada Tanggal 11 Januari di Desa Kertajaya merayakan hari ulang tahun yang ke dua dengan hiburan NAYUBAN DAN WAYANG pada malam harinya. diadakan hiburan NAYUBAN DAN WAYANG bertujuan untuk melestarikan budaya.pada acara ini semua masyarakat baik dari dalam desa maupun dari luar desa antusias datang pada acara ini terutama pada acara wayang samapi halaman desa yang begitu luas dipenuhi oleh penonton sampai padat ke jalan.

Jalaluddin Rumi

Tags

, , , , , , ,

rumi

Bagi sebagian kalangan pecinta syair, pecinta sastra, dan kalangan sejarawan islam, nama Jallaludin rumi’ pasti tidak asing lagi. Beliau adalah ulama’ besar, sufi dan juga seorang penyair. Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar). Sering kita sebut sebagai tarian Darwish. Selama 15 tahun terakhir masa hidupnya.  beliau berhasil membuat himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnawi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair.

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.

Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.

Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.

Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.

Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.

Tak ada makhluk hidup didunia ini yang kekal, dan semuanya pasti akan kembali kepada-Nya. Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273, dalam usia 68 tahun, Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.

Keguyuban di Lembah Ciamis

Tags

, , , , , , , , ,

Oleh Cornelius Helmy

KOMPAS.com - Keguyuban antarumat beragama seperti napas yang tak pernah berhenti di Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Seratusan tahun lalu, perbedaan agama dan keyakinan terus menjadi energi yang menyatukan.

Berada di lembah antara Gunung Sawal dan Gunung Ciremai, Dusun Susuru berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Kabupaten Ciamis. Hanya ada satu jalan beraspal kasar sepanjang 5 kilometer dan lebar 4 meter yang menghubungkannya dengan pusat Desa Kertajaya.

Berbeda dengan dusun terpencil lainnya di Ciamis, masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani itu hidup rukun dalam tiga agama dan keyakinan. Menurut Sekretaris Desa Kertajaya Jojo Jarkasih, awal Agustus lalu, saat ini hidup berdampingan 1.914 pemeluk agama Islam, 131 orang beragama Katolik, dan 56 penghayat Ajaran Karuhun Urang (Akur). Dengan luas wilayah sekitar 150 hektar, letak 3 masjid, 1 gereja, dan tempat sarasehan penghayat pun berdekatan. Demikian juga rumah tinggal pemeluknya.

Jejak toleransi bisa dilihat dari keberadaan rumah ibadat. Di dekat pintu masuk dusun terdapat kompleks Pesantren Al Ikhlas berikut masjidnya. Pemimpin Pondok Pesantren Haji Kurdi Sopandi (50) tak pernah melupakan peran warga Susuru beragama Katolik dan penghayat Akur yang membantu dalam pembangunan masjid pesantren 10 tahun lalu.

Kurdi mengatakan, mereka secara sukarela menyumbang material kayu dan bersama- sama ikut membangun. Hal itu seperti mewarisi kerelaan yang sama saat Masjid Jami Susuru didirikan pada 1970 dan direnovasi 21 tahun kemudian.

”Panitia Badan Amil Zakat- nya adalah Omo dan Ruswa. Keduanya warga Susuru beragama Katolik,” ujar Kurdi. Bahkan, rumahnya pun dibangun bersama oleh warga Katolik dan penghayat yang tinggal di sebelah rumahnya.

Gereja Katolik Stasi Santo Simon di seberang pondok pesantren juga lahir berkat kerukunan masyarakat Susuru. Kepala Stasi Susuru Paulus Anang Suryana (45) mengatakan, banyak pemeluk agama Islam dan penghayat membantu renovasi gereja tahun 2007. Mereka melakukan dengan senang hati tanpa mengharapkan bayaran sepeser pun. Material batu, kayu, tenaga kerja, dan makanan pun disumbangkan.

Toleransi tak hanya di situ. Saat perayaan agama pun warga ikut saling menghadiri. Misalnya, saat perayaan Natal, pemeluk agama Islam dan penghayat tak pernah absen. Selain ikut memberikan renungan, secara sukarela mereka juga ikut berjaga-jaga di acara perayaannya. Warga juga ikut membantu menyumbang konsumsi.

”Kami juga selalu dilibatkan saat umat Muslim merayakan Idul Fitri, Isra Miraj, atau Idul Adha. Tak hanya mengucapkan selamat, tapi saling mendoakan sesuai agama dan keyakinan masing-masing,” ujarnya.

Budaya Sunda

Kepala Program Studi Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Siliwangi Tasikmalaya Akhmad Satori, yang pernah meneliti keberagaman di Susuru, mengatakan, keberagaman itu sudah muncul saat Ki Sumantra, warga Susuru, pulang kampung setelah belajar ilmu rohani. Ki Sumantra belajar dari Pangeran Madrais, pemimpin Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, di Kuningan, Jawa Barat, awal abad ke-20.

Ajaran Pangeran Madrais yang dikenal dengan Agama Djawa Sunda (ADS) lantas diajarkan kepada masyarakat Susuru. Sebelumnya, seluruh masyarakat Susuru memeluk agama Islam.

Tahun 1960-an, saat pemerintah melarang ADS, Pangeran Tejabuana, pemimpin ADS ketika itu, membebaskan pengikutnya menganut agama yang diakui saat itu. Pangeran Tejabuana memilih Katolik, diikuti banyak pengikutnya di Susuru. Namun, tak sedikit yang memilih masuk Islam.

”Masyarakat Dusun Susuru mengedepankan hidup berdampingan tanpa melihat perbedaan agama dan kepercayaan. Masyarakat saling menghormati pilihan yang diambil warga lainnya,” katanya.

Dalam perkembangannya, masyarakat yang tak puas dengan agama yang dipeluknya memilih menjadi penghayat yang menamakan diri Ajaran Karuhun Urang. Mereka percaya ada Tuhan atau Gusti nuMaha Suci. Ada juga yang memilih keyakinan dan agama baru lewat perkawinan. Semuanya terjadi tanpa paksaan atau konflik.

”Kentalnya penerapan budaya Sunda berperan menciptakan masyarakat penuh toleransi,” ujar Akhmad. Pemeo Sunda yang menyebutkan silih asah, silih asih, silih asuh, yang artinya saling mengasihi, mempertajam diri, dan melindungi, benar-benar nyata di Susuru. Buktinya, degung—kesenian khas Sunda— mengiringi misa umat Katolik Susuru.

Bukan halangan

Margaretha Mimi Sumiyati (45), warga Susuru, mengatakan, orangtuanya membebaskan anak-anaknya memilih agama dan kepercayaan. Ia memilih Katolik meski orangtua dan ketiga kakaknya penghayat. Mereka tinggal di rumah yang sama tanpa ada konflik agama. Pesan tak ada agama atau kepercayaan yang mengajarkan keburukan menjadi pegangan.

”Perbedaan ini menjadi anugerah,” katanya. Dari dusun ini, tercatat enam warga menjadi biarawan dan biarawati.

Hal yang sama diakui Dayat Hidayat (40), penghayat Akur. ”Perbedaan keyakinan seperti permata yang berharga untuk saling menjaga dan memperhatikan,” ujarnya.

Sanajan sewang-sewang tapi teu ewang-ewang. Meski berbeda agama, warga Susuru tak terpisahkan

PETA SUSURU, KERTAJAYA

Tags

, , ,

Google map belum meng-up date data untuk Desa Kertajaya. Desa kertajaya merupakan desa pemekaran dari Desa Kertayasa. Google baru menyediakan Desa Kertajaya. Namun, lokasai masih berdekatan. Untuk gambaran lokasi kami tampilkan Desa Kertayasa dan Kecamatan Panwangan. Untuk sampai ke Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Panawangan, mudah saja kok. Dari arah Cirebon, silakan menuju ke arah selatan. Kalau perjalanan mulai dari Kota Ciamis, silakan ambil arah ke utara mengikuti jalur Cirebon. Nanti akan bertemu dengan satu kecamatan namanya Kecamatan Panawangan. Lokasinya sebelum Kawali. Dari Panwangan, ( kalau dari arah Cirebon berada di sebelah kanan, kalau dari arah Ciamis berada di sebelah kiri) ada Mesjid Jami, naik ke atas ke Susuru, Kertajaya. Terus saja naik lebih kurang 7 km hingga menemukan balai Desa Kertajaya  di puncak bukit. Nah, sampailah di lokasi kantor desa. Untuk bisa bertemu masyarakat Sususru masih harus turun bukit kira-kira 1 km lagi.

Ini dia kira-kira peta Panawangan dan Desa Kertayasa. Maaf Kertajaya belum diakui Mbah Google.

https://maps.google.com/maps?hl=id&tab=wl


Google Maps

PUISI ALAM PADESAAN

Tags

, , , , , , , ,

DIGITAL CAMERA

DI MUMUNGGANG PASIR MAKAM

Harita keur jaman budak

Nu keur meujeuhna nalaktak

Pasir Makam jadi pangulinan

Paragi susumputan jeung udag-udagan

 

Kiwari geus jaman kolot

Di pasir ieu neuteup pilempongan di lebah dinya

Bari ngarasakeun hiliwirna angin

Mayakpak sawah ti beulah kaler

Matak mapaler kana hate

 

Opat puluh taun kaliwat waktu teu karasa nyerelek

Saperti karek kamari kuring indit ti pilemburan

Ngumbara ka wewengkon sejen

Nuturkeun kahayang jeung nasib diri

Melampah hirup di luhureun langit nu maleukmeuk

Kapulas ku haseup polusi  jeung modernisasi

 

Di mununggang pasir ieu

Kaayaan tingtrim masih karasa

Najan di luar kabeh geus robah ilu majuna jaman

Lamping Gunung Sawal  jeung Gunung Bitung jadi pipinding

Nyumputkeun sacangkewok katingtriman di  lebeh dieu

 

Pamuga tong loba panagaruh anu ngarobah

kaendahan katingtriman lembur ieu

masing ayeuna globalisasi geus jadi hiji anutan

anu mawa jalma sadunya bisa tumpek kana hiji ngaran ‘generasi cenected’

(   Ch. Enung Martina) 

ARTIKEL TENTANG MASYARAKAT PANCASILA

Tags

, , , , , , , , , ,

Kemajemukan  Masyarakat Dusun Susuru Desa Kertajaya Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis Sebagai Model Masyarakat Pancasila

Oleh : Akhmad Satori, S.IP., M.SI

A.     Latar Belakang Masalah

Gerakan reformasi yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia dewasa ini menjadi isu sentral akhir-akhir ini, penyebabnya karena berbagai kalangan birokrat yang ada di lembaga-lembaga tinggi negara, kalangan politisi, aktivis pemuda, LSM serta pemuka agama atau masyarakat. Proses glo­balisasi di Indonesia membawa serta masuknya nilai-nilai universal seperti demokrasi dan hak asasi manusia yang kemudian menguasai opini publik da­lam atmosfir politik nasional.Wacana publik tentang demokrasi dan hak asasi manusia itu menjadi menonjol dan menenggelamkan wacana tentang Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

Lenyapnya Pancasila dari dunia tuturan sejak reformasi menimbulkan keprihatinan yang cukup dalam, baik dalam ka­langan elite politik maupun masyarakat luas. Keprihatinan itu ditunjukkan melalui berbagai pernyataan di media massa maupun kegiatan-kegiatan lainnya seperti seminar, simposium, dan sarasehan mengenai Pancasila dan eksistensinya setelah reformasi. Bahkan Lembaga Ketahaman Nasional (Lem­hanas) telah membentuk deputi khusus untuk menangani masalah “makin menipisnya kesadaran dan penghayatan akan pentingnya Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa”.

Nilai-nilai Pancasila telah tergerus oleh globalisasi yang selalu membawa karakter individualistik dan liberal. Kita sebagai bangsa tidak lagi mampu menjadikan Pancasila sebagai benteng untuk menahan arus globalisasi yang membawa dampak pada kehidupan yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Disisi lain kondisi Bangsa Indonesia saat ini ialah lemahnya nasionalisme; lemahnya SDM (sumber daya manusia); lunturnya disiplin; Pancasila teralineasi atau terasingkan; demokrasi cenderung menjadi tujuan; ambiguitas atau kedwiartian dalam pengaturan ekonomi yang menyimpang dari kepentingan nasional, moral dan budaya bangsa yang sedang sakit; postur kekuatan hankam yang memprihatinkan; hujatan terhadap TNI sebagai bagian dari Orde Baru, dll.

Sebuah kenyataan yang memilukan ketika terdapat pemboman dan gerakan separatis di negeri ini. Pancasila sebagai falsafah negara ternyata tidak mampu menjadi sebuah jawaban dari penyelesaian permasalahan yang dibutuhkan. Pancasila tidak lagi berada di dada burung garuda yang gagah, melainkan burung merpati yang lemah.

Persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara seperti diuraikan di atas, tidak demikian halnya bagi masyarakat dusun Susuru Desa Kertayasa Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis. Nilai-nilai yang terkristalisasi dalam Pancasila adalah merupakan manifestasi nilai-nilai kehidupan masyarakat dusun Susuru. Kebiasaan berinteraksi, bersikap, berpola tingkah laku, berpikir masyarakat menjadi modal social yang paling berharga dalam kehidupan masyarakat tersebut. Nilai-nilai tersebut diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga menjelma menjadi bentuk kehidupan yang mengakar di masyarakat yang kita kenal dengan nilai kerjasama atau gotong royong tanpa pamrih, tanpa instruksi dan terbebas dari segala kepentingan, baik dalam kehidupan untuk membangunan tempat tinggal warga masyarat,membangun rumah ibadah, jalan kampong dan desa, saluran irigasi dan kegiatan yang menyangkut segala aspek kehidupan.

Kondisi masyarakat yang demikian sudah jarang kita temukan, kendatipun demikian masih ada warga masyarakat yang mampu mempertahankan nilai-nilai luhur tradisi, adat istiadat dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Kemajemukan dalam agama dan kepercayaan masyarakat dusun Susuru memberi inspirasi kepada kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia untuk dijadikan tauladan, model kehidupan masyarakat dan nilai-nilai sosial (modal sosial) lainnya bagi masyarakat luas di Indonesia.

B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan sebagaimana diuraikan di atas, untuk memudahkan dalam pembahasan, permasalahannya diidentifikasi dan dibatasi sebagai berikut : (1) Latar belakang kehidupan sosial budaya masyarakat dusun susuru sebagai warisan kehidupan masyarakat leluhurnya; (2) Latar belakang kehidupan sosial keagamaan masyarakat dusun susuru; (3) Proses akulturasi yang terjadi pada masyarakat dusun susuru; dan, (4) Proses sosial budaya masyarakat dusun susuru.

Dari identifikasi masalah di atas, maka dirumuskan masalahnya sebagai berikut;

1.    Bagaimana proses terjadi sistem sosial dan sistem budaya, dan sistem keagamaan majemuk yang berlaku sekarang di Susuru?.

2.    Bagaimana proses transisi masyarakat Susuru dalam memahami kemajemukan?

C.    Model Masyarakat Majemuk yang Pancasilais

Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnivall (1940) adalah orang yang hidup berdampingan secara fisik, tetapi karena perbedaan sosial mereka terpisah-pisah dan tidak bergabung dalam sebuah unit politik. Sebagai seorang sarjana yang untuk pertama kali menemukan istilah ini, Furnivall menunjuk masyarakat Indonesia di zaman kolonial sebagai contoh yang klasik. Masyarakat Hindia Belanda waktu itu terpisah-pisah, tidak saja antara kelompok yang memerintah dan yang diperintah dipisahkan oleh ras yang berbeda, tetapi secara fungsional masyarakatnya terbelah dalam unit-unit ekonomi, antara pedagang Cina, Arab, dan India (Foreign Asiatic) dengan kelompok petani Bumi Putera. Menurut Furnivall masyarakat dalam unit-unit ekonomi ini hidup menyendiri (exclusive) pada lokasi-lokasi pemukiman tertentu dengan sistem sosialnya masing-masing. (Nasikun: 2001)

Pemisahan kelompok-kelompok masyarakat ini dapat juga disebabkan karena perbedaan agama (seperti di Irlandia), dan kasta (di India). Sebab utama dari pemisahan ini, ialah kepentingan untuk monopoli sumber-sumber ekonomi (economic resources). Dengan kata lain, kepentingan ekonomi dilanggengkan oleh ras, agama, suku, bangsa, hukum, politik, bahkan nasionalisme.

Setidaknya, dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian di atas: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2) konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism). Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukimanindustri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat.

Urbanisasi dan industrialisasi Indonesia, seperti dibuktikan dalam sejarah, tidak dengan sendirinya mengikis unsur-unsur kemajemukan masyarakatnya, malah dalam berbagai studi menunjukkan kecenderungan penguatan aspek-aspek primordialisme (suku, agama, dan sistem simbolik lainnya) dalam kehidupan masyarakat kota. Ironisnya, kemajemukan primordialisme ini berkembang bersama proses transformasi masyarakat kota itu sendiri dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, sehingga kemajemukan dalam aspek kehidupan tersebut menjadi berganda.

Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita, bahkan di samping hal itu dijamin oleh UUD 45, tetapi juga memerlukan pluralisme itu dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam “National Building”.

Kemajemukan (pluralitas) dan keanekaragaman (heterogenitas atau diversitas) masyarakat dan kebudayaan di Indonesia merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan. Ini harus harus kita akui secara jujur, terima dengan lapang dada, kelola dengan cermat, dan jaga dengan penuh rasa syukur; bukan harus kita tolak, abaikan, sesalkan, biarkan, dan diingkari hanya karena kemajemukan dan keanekaragaman itu menimbulkan berbagai ekses negatif, antara lain benturan masyarakat dan kebudayaan lokal di pelbagai tempat di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno dalam memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1954 mengingatkan pentingnya memahami kemajemukan budaya yang menjadi ciri bangsa Indonesia. “Ingat kita ini bukan dari satu adat istiadat. Ingat, kita ini bukan dari satu agama. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi satu, demikianlah tertulis di lambang negara kita, dan tekanan kataku sekarang ini kuletakkan kepada kata bhinna, yaitu berbeda-beda. Ingat kita ini bhinna, kita ini berbeda-beda …” (dikutip dari Kompas, Maret 2001, hal. 31).

Pancasila lahir dari ideologi keagamaan, politik dan sosial. Para pendiri bangsa mampu melihat ke depan, ketika kemajemukan, perbedaan, pluralitas harus dilihat sebagai kekuatan perekat bukan unsur pemecah belah. Dalam kandungan Pancasila, perbedaan dan pluralitas adalah kekuatan yang menyatukan.

Karena itulah, sebagai komunitas bangsa yang inklusif, rakyat membutuhkan Pancasila sebagai ideologi humanitas semesta, yang mampu menjadi filter atas berbagai pengaruh negatif fenomena mo-dernitas. Sekaligus menjadi pendamping bagi masyarakat yang mulai mengalami alienasi diri. Atau mengisi kembali ruang-ruang kosong kejiwaan manusia Indonesia dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal seperti cinta kasih, ketulusan, kejujuran, pengabdian, dan pelayanan terhadap sesama, bekerja sama untuk membangun kembali kehidupan bersama yang damai, harmonis, dan sejahtera. (Mujiran, 2001)

Sehingga, Masyarakat Pancasilais sebagai Masyarakat Kreatif (Creative Society) akan terbangun dari bawah melalui para pemimpin-pemimpin yang akan selalu menambah ilmu pengetahuannya dari tingkat lokal hingga tingkat nasional. Maknanya, penegakan kedaulatan rakyat akan benar-benar terjadi dan terealisasi selaras dengan budaya bangsa.

Dalam konteks lokal, masyarakat pancasila dicerminkan dalam tata nilai dan budaya yang dijalankannya.  Di tengah masyarakat yang majemuk, baik secara etnis, budaya dan agama tentunya harus dilandasi nilai-nilai filosofis pancasila.  Pancasila harus terus hidup dalam kehidupam masyarakat, lebih optimal sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Pancasila harus menjadi perekat perbedaan kultur yang terbangun dalam masyarakat plural. Menjadi ideologi bersama oleh semua kelompok masyarakat, bisa juga dimaknai sebagai identitas nasional yang bisa menjadi media dalam menjembatani perbedaan yang muncul.

D.  Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Pendekatan ini memungkinkan fokus riset berubah selama jalannya pengumpulan data, karena itu cenderung induktif. Penentuan informan dengan model seleksi komprehensif.Metode pengumpulan data yang digunakan wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaannya yang bersifat etnografis. Analisis data dilakukan untuk menyajikan data-data dari hasil penelitian dalam bentuk deskriptif yang dimodifikasi dengan ekplorasi kasus secara sistematis berdasarkan sifat data yang ada.

E.  Keragaman dalam Keberagamaan di Dusun Susuru

Desa Kertajaya adalah merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Kertayasa, pemerintahannya secara resmi baru berdiri sejak awal tahun 2011. Aparatur  pemerintahan desa secara struktural belum lengkap, karena keterbatasan sumberdaya manusia. Secara struktural pemerintahan Desa Kertajaya  terdiri dari kepala desa dan dibantu oleh beberapa kepala urusan, kepala seksi, sementara sekretaris desa belum terisi, Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Keuangan, Kepala Seksi Kesra dan Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Seksi Pemerintahan, Keamanan dan Ketertiban, Kasi Perekonomian dan Pembangunan. Kepala Dusun Susuru, Kepala Dusun Dayeuh Landeuh dan Kepala Dusun Cirukem.

Dusun Susuru semula masuk dalam wilayah pemerintahan Desa Kertayasa, setelah terjadi pemekaran Dusun Susuru masuk ke dalam wilayah Desa Kertajaya. Luas wilayah Desa Kertajaya  436,497 ha terdiri dari  tiga kedusunan,  8  RW dan  20 RT Jumlah penduduk Desa Kertajaya sebanyak 693 kk  atau 1860  jiwa.  Kepadatan penduduk  234,4 jiwa/ km2.  Orbitasi Desa Kertajaya sebagai berikut, jarak dari desa ke ibukota kecamatan Panawangan 5 kilometer, jarak dari desa ke Ibukota Kabupaten Ciamis 45 kilometer.

            Agama sebagai pedoman hidup yang memiliki tata nilai yang lebih agung, tidaklah cukup untuk memberikan dominasi pembinaan mental, fisik dan jasmani bagi masyarakat Indonesia. Karena tatarannya lebih dominan pada aspek ruhani, yang terkadang pada kelompok masyarakat tertentu atau komunitas tertentu di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, masih banyak yang terjebak fanatisme berlebihan terhadap satu faham saja dari agama dan keyakinan yang dianutnya, sehingga berimplikasi pada bentuk-bentuk penyimpangan yang secara tegas  terlarang menurut aturan agama dan negara.

Dari sekian banyak kelompok masyarakat/komunitas masyarakat yang tersebar di tanah air, yang memiliki ikatan primordial, budaya dan ideologi tertentu, memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia sangat beragam, baik budaya, pandangan hidup, agama dan kepercayaan, adat istiadat, bahasa, simbol-simbol ikatan, atribut dan lain sebagainya. Dari sekian banyak multikultur  tersebut, terdapat komunitas masyarakat di Desa Kertajaya Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis Jawa Barat, tepatnya di dusun Susuru yang memiliki sistem kehidupan sosial budaya yang mencerminkan kebhinekaan agama/kepercayaan dalam sebuah wilayah kedusunan.

Kehidupan masyarakat dusun Susuru dalam bidang keagamaan sangat sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.  Bagi mereka, ada hal yang penting untuk dipertahankan yaitu kebersamaan. Menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sangat kental dalam setiap pribadi warga masyarakat Dusun Susuru. Masyarakat dusun Susuru lebih mengedepankan hidup berdampingan tanpa melihat perbedaan latar belakang agama dan kepercayaan masing-masing. Oleh karena itu, tidak heran jika ada seorang Muslim di dusun Susuru yang mengikuti perayaan Natal di gereja.

Meskipun, sebagaimana dikatakan oleh tokoh kalangan Muslim di dusun Susuru, perilaku semacam itu dalam kitab – kitab piqih agama Islam bentuk seperti tersebut dianggap sebagai bentuk penyimpangan, akan tetapi bagi masyarakat setempat nilai-nilai kemanusian lebih penting daripada formalitas ritual. Hal tersebut dapat dilihat ketika umat Islam merayakan Hari Raya Iedul fitri atau Iedul adha, warga masyarakat penganut agama lain berbaur bersama mereka untuk merayakannya dan mengucapkan selamat kepada warga masyarakat yang sedang merayakan hari raya dimaksud. Jika dibandingkan dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat kota yang struktur masyarakatnya heterogen dan multicultural, adalah hal yang dianggap biasa, namun bagi warga masyarakat pada tingkat kedusunan, fenomena seperti itu menjadi suatu hal yang amat luar biasa dan jarang ditemukan di tempat lain khususnya di daerah Ciamis.

Realita kehidupan sosial budaya masyarakat dusun Susuru seperti diutarakan di atas, menjadi suatu hal yang dianggap unik bagi warga masyarakat sekitar dusun Susuru. Kebersamaan dalam kehidupan social budaya masyarakat Susuru dalam keberagaman agama dan kepercayaan menjadi fenomena yang sering mengundang berbagai fihak untuk mengetahui secara mendalam tentang kehidupan masyarakat ini.

Menurut beberapa sumber, pemuka agama dan pemuka penghayat, pada awalnya, semua penduduk dusun Susuru beragama Islam. Akan tetapi pada paruh pertama abad ke-20, salah seorang penduduk Susuru yaitu Ki Sumarta berangkat ke Cigugur untuk mencari ilmu di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal (Padepokan Madrais), Ki Sumarta bertemu dengan Pangeran Madrais yang berasal dari Keraton Ciawi Gebang, disanalah Ki Sumarta menemukan ilmu yang selama ini dia cari.

Setelah tamat belajar mencari ilmu di Cigugur, ia kembali ke Susuru dan menjadi penyebar utama ajaran Madrais yang dikenal dengan sebutan Agama Djawa Sunda (ADS). Pada perkembangan berikutnya, kurang lebih tahun 60an, pemerintah melarang perkembangan ADS dan pemimpinnya ketika itu, Pangeran Tejabuana (putra dari Madrais), memerintahkan para pengikutnya untuk memasuki agama apapun sesuai pilihan mereka. Dia sendiri kemudian menganut agama Katolik. Oleh karena itu, tak aneh jika banyak pengikutnya juga menganut agama Katolik, demikian pula yang terjadi di dusun Susuru, warga masyarakat pada waktu itu yang semula sebagai penganut ADS, berpindah ke Katholik dan Islam.

Namun demikian, beberapa pemuka masyarakat/agama, mengemukakan bahwa masuknya warga masyarakat ADS ke Katholik bukan didasarkan oleh kesadaran dan keyakinan akan kebenaran ajaran Katolik, melainkan mereka mengikuti ketua/pemimpin/tokoh ADS mereka. Dari beberapa orang yang beralih ke agama Katolik terdapat warga yang tidak merasa puas dengan ajaran Katholik berdasarkan keyakinan mereka. Oleh karena itu, mereka kembali mendirikan ajaran semula yaitu ADS dengan nama penghayat kepercayaan. Beberapa warga yang masih bertahan di agama Katholik kemudian berpindah ke agama lain, dengan alasan tidak cocok dengan keyakinan mereka, perpindahan mereka tidak secara masal seperti ketika mereka pindah dari ADS ke Katholik, mereka pindah karena alasan mengikuti suami atau isteri, karena di dusun Susuru perkawinan dengan berbeda agama cukup banyak. .Diantara mereka terdapat warga masyarakat yang masuk Kristen Protestan. Data dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Panawangan menunjukan tingginya tingkat konversi agama di Desa Kertajaya khususnya di dusun Susuru, sebanyak  10 orang  yang semula berasal dari penghayat pindah ke agama Islam, dari Katholik ke agama Islam sebanyak 14 orang dan sebanyak 1 orang dari agama Islam penghayat, alas an kepindahannya karena pernikahan.

Keadaan seperti itulah yang membuat beberapa pengikut kepercayaan merasa gamang sehingga memutuskan untuk tetap di Katolik atau mencoba mendalami agama Islam atau Protestan. Situasi itu semakin berat karena selama ini, sebagai kelompok minoritas, para penghayat kepercayaan menyimpan trauma akibat tekanan oleh penguasa tempo dulu terhadap kelangsungan ajaran yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Menurut Pak Kemo tokoh penghayat dan  seorang sesepuh penghayat di Susuru, menyatakan bahwa sejak lama, penguasa senantiasa meminggirkan mereka dengan mencapnya sebagai aliran sesat. Karena kebijakan politik penguasa seperti inilah sepanjang sejarahnya, kelompok ini pernah mengalami pencekalan dan pelarangan berkali-kali. mungkin akibat hal ini pula sehingga para penghayat kepercayaan bersikap apatis dalam kegiatan politik, beberapa di antara mereka bahkan merasa tidak nyaman untuk mendengar atau membicarakan politik.

Kegamangan dan kelabilan dalam menentukan pegangan/keyakinan dalam kehidupan beragama tidak hanya terjadi di kalangan umat Katolik dan para penghayat kepercayaan. Di kalangan Muslim juga muncul kebimbangan untuk menentukan identitas secara tegas, misalnya seorang warga pemeluk agama Islam nikah dengan warga yang bukan muslim, diantara mereka ada yang tetap bertahan sebagai muslim, namun ada pula warga muslim yang pindah ke agama lain atau ke penghayat. Misalnya; keluarga Pa Kemo seorang tokoh penghayat memiliki 8 saudara, dari 8 saudara terdapat 2 orang saudaranya sebagai penghayat, 5 orang sebagai muslim dan 1 orang sebagai katholik. Demikian pula yang terjadi di keluarga Kepala Desa Kertajaya, saudaranya ada yang katholik.

Tokoh agama/pemuka agama/Ustadz di dusun Susuru, selama ini yang dijadikan rujukan oleh kalangan masyarakat muslim, baik dalam hubungannya dengan masalah ibadah maupun dalam aktivitas keagamaan umat Islam adalah Pak Kurdi Sopandi, saat ini ia menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Panawangan. Masyarakat muslim dusun Susuru menjadikannya Pak Kurdi sebagai rujukan karena kapasitasnya sebagai pejabat resmi pemerintah dalam bidang keagamaan di daerahnya. Aktivitas keagamaan yang rutin dijalani oleh umat Islam, selain ibadah sholat, di Susuru adalah pengajian rutin yang diselenggarakan tiga kali seminggu. Kesadaran untuk berzakat selain zakat fitrah, juga belum muncul. Mungkin, ikon keislaman yang paling  tampak jelas adalah tiga masjid jami, satu pesantren  dan satu madrasah tsanawiyah.

F.   Budaya Sebagai Pemersatu Kemajemukan

Dalam tataran empiris terdapat hubungan timbal balik antara agama, keberagamaan dan masyarakat. Pertama, pengaruh agama terhadap masyarakat, seperti yang terlihat dalam pembentukan, pengembangan dan penentuan kelompok keagamaan spesifik yang baru.  Kedua, pengaruh masyarakat terhadap agama.  Dalam hal ini para ahli memusatkan perhatiannya pada faktor-faktor sosial budaya yang memberikan keragaman perasaan dan sifat keagamaan yang terdapat dalam suatu lingkungan atau kelompok sosial tertentu.

Istilah kebudayaan sunda pada hakikatnya untuk menyebut masyarakat yang mendiami wilyah Jawa Barat dan Banten, walaupun secara antropologis masyarakat sunda juga merupakan masyarakat Jawa, yang menjadi bagian dari wilayah pulau Jawa. Kebudayaan Sunda menarik untuk disimak, karena seperti budaya etnis lainnya di nusantara ini, budaya sunda juga telah mengalami pengaruh yang signifikan dari luar.  Walaupun tidak sekuat budaya asli, perubahan itu terjadi melalui kontak budaya yang menghasilkan proses akulturasi.  Namun, dalam tatanan masyarakat sunda, pengaruh budaya sangat berdampak terhadap keyakinan yang dianut, terlihat dalam beberapa komunitas adat seperti Kampung Naga, Kampung Kuta, Dusun Susuru dan masih banyak lagi hanya sedikit mendapat pengaruh dari budaya luar.

Budaya Sunda dalam kontek kehidupan beragama bagi masyarakat dusun Susuru dikolaborasikan dengan kebudayaan fisik maupun non fisik.  budaya fisik dan non fisik seperti seperangkat kesenian Sunda dengan tembang sunda menjadi pengantar dalam acara ritual penghayat atau katolik, sementara di kalangan masyarakat muslim menggunakan seperangkat kesenian Tagoni/rebana.

Mitologis dan tradisi di kalangan masyarakat penganut kepercayaan/penghayat masih tetap berlaku dalam acara ritual mereka seperti konsep Pikukuh Tilu yang intinya mengajarkan setiap manusia untuk berbuat baik kepada manusia lain serta untuk mengenal diri sendiri didasarkan atas keyakinan sebagai orang Sunda yaitu : aspek teologis dengan sebutan Gusti nu maha agung, Gusti nu maha nangtayungan (Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Melindungi),  Keyakinan orang Sunda didasarkan pada Ciri anu mandiri (tanda yang mandiri), ciri anu ngajadi (rupa, basa, adat sareng budaya) artinya (Tanda yang menjadikan rupa, bahasa dan budaya).

Ajaran Pikukuh Tilu menurut Pak Kemo terdiri dari :

-       Ngaji badan : ngaji titis tulis urang

-       Iman kana tanah adegan

-       Ngiblat ka ratu raja : ratu = rata, hartosna ngaratakeun raga

Sedangkan Pikukuh Tilu menurut Pak Adli (alm) antara lain;

-       Ciri-ciri salaku manusa

-       Ciri-ciri salaku bangsa

-       Ciri-ciri salaku urang Sunda

Pikukuh Tilu diartikan sebagai pedoman/ajaran/rujukan bagi komunitas penghayat dalam acara ritual yang dilakukan setiap hari Kamis di tempat ibadah kaum penghayat yang disebut tempat saresehan, lokasinya tepat berada didepan Mesjid Jami Desa Kertajaya yang jaraknya lebih kurang 20 meter. Ajaran Pikukuh Tilu, menurut Pak Kemo mengandung makna filosofi bagi masyarakat penghayat yaitu;

-       Tilu (tiga) terdiri dari Sir, rasa sareng piker;

-       Dua : papasangan ( istri pameget, sian wengi);

-       Opat (empat), kulon, kaler, wetan sareng kidul;

-       Lima : pancaindra, irung kanggo ngambeu, soca kanggo ningali, cepil kanggo pangdenge,

G.   Toleransi  Beragama Warga Masyarakat Susuru

Dari sudut pandang pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya.  Pertama, kondisi kejiwaan (psychological state), yaitu kondisi subjektif atau kondisi dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama.  Kondisi ini yang disebut sebagai kondisi agama, yaitu kondisi patuh dan taat kepada yang disembah.  Emosi agama seperti itu merupakan gejala individual yang dimiliki oleh setiap penganut agama yang membuat dirinya merasa sebagai makhluk Tuhan.  Dimensi religiositas merupakan inti dari keberagamaan.  Inilah yang membangkitkan solidaritas seagama, menumbuhkan kesadaran beragama, dan menjadikan orang shalih dan taqwa.  Segi psikologis ini sangat sulit diukur dan susah untuk diamati karena merupakan milik pribadi pemeluk agama.  Pengungkapan keberagamaan segi psikologis ini baru bisa dipahami ketika menjadi sesuatu yang diucapkan atau dinyatakan dalam perilaku orang yang beragama tersebut.

Kedua, kondisi objektif (objective state), yaitu kondisi luar yang disebut juga kejadian objektif, dimensi empiris dari agama.  Keadaan ini muncul ketika agama dinhatakan oleh penganutnya dalam berbagai ekspresi, baik ekspresi teologis, ritual maupun persekutuan.  Segi objektif inilah yang bisa dipelajari dengan menggunakan metode ilmu social.  Segi kedua ini mencakup adat upacara keagamaan, bangunan, tempat-tempat peribadatan, mitologi, kepercayaan dan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam telihat bahwa masyarakat Dusun Susuru dalam berkehidupan beragama tidak terlepas dari dua hal tersebut diatas. Masyarakat Dusun Susuru memandang agama dari segi kondisi kejiwaan bahwasanya mereka selaku umat beragama merasa memiliki kewajiban untuk taat pada ajaran-ajaran agamanya masing masing. Masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam berkeyakinan bahwa mereka wajib untuk bertakwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Misalnya, mereka sangat yakin bahwa mereka wajib untuk melaksanakan Rukun Islam yakni sahadat, shalat, puasa, zakat dan naik haji. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa jika melaksanakan itu semua akan membawa kebaikan bagi diri mereka. Mereka yang beragama Islam juga mempunyai keyakinan pada diri mereka bahwa jika mereka melanggar apa yang dilarang oleh Allah SWT, maka mereka akan mendapat dosa dan akan mendapat siksaan pada kehidupan selanjutnya kelak. Untuk melaksanakan semua apa yang menjadi keyakinan masyarakat Susuru yang beragama Islam mendirikan sebuah masjid sebagai tempat melaksanakan peribadatannya. Selain itu, masjid juga dibangun untuk memperkuat persaudaraan sesama muslim. Di dalam masjid itu mereka selalu melakukan ibadah berjamaah atau bersama sama sehingga hal ini akan semakim memperkuat persaudaraan mereka.

Sebagaimana masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam, masyarakat Dusun Susuru yang beragama Katolik juga memiliki keyakinan dalam dirinya bahwa mereka adalah makhluk Tuhan dan mereka merasa memiliki kewajiban untuk melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan yang terdapat dalam Kitab Injil. Meraka juga meyakini bahwa jika ajaran-ajaran Tuhan tersebut dilaksanakan maka akan membawa kebaikan pada diri mereka dan sebaliknya jika tidak dilaksanaka maka akan berdosa dan membawa mereka pada kesengsaraan. Sebagimana umat Islam yang membangun Masjid sebagai tempat mereka beribadah. Masyarakat Susuru yang beragama Katolik pun membangun sebuah Gereja sebagai tempat mereka beribadah.

Begitupun masyarakat Dusun Susuru yang menganut aliran kepercayaan atau yang disebut sebagai Penghayat memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran yang diberikan oleh Tuhan atau Gusti Nu Maha Suci. Nilai-nilai kebenaran tersebut harus mereka laksanakan dalam menjalani kehidupan mereka. Mereka juga memiliki keyakinan bahwa jika nilai-nilai kebenaran dari Tuhan tersebut tidak mereka laksanakan maka mereka yakini akan membawa kesengsaraan dalam menjalani kehidupan ini.  Sebagaimana masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam dan Katolik masyarakat Dusun Susuru yang berkeyakinan sebagai Penghayat pun memiliki tempat untuk beribadah. Hanya saja tempat ini tidak dibangun secara khusus melainkan berupa rumah dari salah satu Penghayat yang dihibahkan untuk dijadikan sebagai tempat untuk beribadah.

Toleransi adalah suatu sikap yang timbul dalam diri individu atau suatu kelompok masyarakat untuk menghormati dan menghargai individu atau kelompok lain yang memiliki perbedaan dengannya. Dari konsep ini maka toleransi beragama dapat diartikan sebagai sikap menghormati dan menghargai individu atau kelompok masyarakat lain yang berbeda agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian ketika kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana terdapat beberapa kelompok masyarakat yang berbeda agama pada suatu komunitas masyarakat tertentu maka yang terlihat adalah sikap saling menghargai dan menghormati dalam masyarakat yang berbeda-beda agama dan kepercayaan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam terlihat bahwa nilai-nilai toleransi beragama sangat dipelihara oleh masyarakat Susuru. Ini terlihat dari tidak terlihatnya sikap saling mengekslusifkan diri dari masing-masing kelompok masyarakat yang berbeda agama kepercayaan masyarakat Dusun Susuru. Mereka bergaul satu sama lain dan bermasyarakat seperti biasanya, seperti masyarakat yang tidak memiliki perbedaan. Jika ada suatu pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga masyarakat, mereka bergotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Selain itu sikap toleransi yang dimiliki masyarakat Dusun Susuru terlihat ketika ada upacara-upacara keagamaan semua masyarakat Dusun Susuru diundang untuk menghadirinya tanpa melihat dari golongan agama mana yang mereka undang. Juga ketika ada salah satu dari masyarakat Dusun Susuru yang meninggal dunia, sore hari atau malam harinya sampai malam ke tujuh masyarakat Dusun Susuru melaksanakan “tahlilan” untuk mendoakan orang yang meninggal tersebut tanpa melihat dari golongan agama mana orang yang meninggal tersebut.

Toleransi beragama pada masyarakat Dusun Susuru juga dapat terlihat dari keberadaan tempat ibadah dari masing-masing agama dan kepercayaan yang terdapat di Dusun Susuru. Berdasarkan hasil penelitian dengan teknik pengumpulan data yang menggunakan observasi langsung terlihat bahwa letak dari masing-masing tempat ibadah terletak pada lokasi yang tidak berjauhan dan tidak terpisah-pisah secara ekslusif. Misalnya saja Gereja Santo Simon yang merupakan tempat beribada warga Susuru yang beragama Katolik letaknya bersebrangan dengan Pesantren Al-Hikmah yang merupakan pusat pengkajian ajaran Agama Islam yang didalamnya terdapat masjid sebagai tempat beribadah masyarakat Susuru yang beragama Islam. Letak kedua tersebut hanya dipisahkan oleh jalan desa yang lebarnya tidak mencapai 3 meter.

Walaupun tempat ibadah masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam dan masyarakat Dusun Susuru yang beragama Katolik tetapi mereka sama sekali tidak merasa berkeberatan ataupun merasa risih beribadah di tempat ibadah yang letaknya berdekatan dengan tempat ibadah dari masyarakat Dusun Susuru yang berbeda agama.

Berdasarkan hasil observasi diatas terlihat bahwa masyarakat Dusun Susuru memiliki rasa toleransi beragama yang sangat kuat. Mereka menjalani kehidupan bermasyarakat dengan saling menghargai dan menghormati antara satu sama lain walaupun mereka menganut agama berbeda, cara beribadah yang berbeda dan tempat ibadah yang berbeda.

 H.  Nilai-Nilai Budaya dan Filosofi Hidup

Budaya merupakan suatu hal yang melekat dalam kehidupan manusia dalam menjalani kehidupannya bermasyarakat. Budaya berkaitan dengan kebiasaan, adat atau cara hidup masyarakat. Kebudayaan menurut Marvin Harris merupakan nilai-nilai yang berlaku dalam tingkah laku dengan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, seperti adat atau cara hidup masyarakat. sedangkan kebudayaan menurut Spreadley merujuk pada pengetahuan yang diperoleh dan dugunakan manusia untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial tertentu.

Berdasarkan hasil penelitian, di Dusun Susuru Desa Kertayasa masyarakat hidup dengan melaksanakan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.

Kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua. Kebudayaan sunda berasal kebudayaan raja – raja Sunda pada . Ada beberapa nilai-nilai dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter. Kebudayaan sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Hampir semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama Islam, walaupun berebeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk alam semesta. Hal ini seperti yang terjadi pada masyarakat Dusun Susuru Desa Kertayasa kabupaten Ciamis.

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Dusun Susuru hidup dengan memegang teguh budaya Sunda walaupun tidak semua masyarakat Susuru beragama Islam. Di Dusun Susuru terdapat beberapa kelompok masyarakat yang menganut agama dan kepercayaan yang berbeda. Sebagian menganut Agama Islam, sebagian lagi menganut Agama Katolik dan sisanya menganut kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang biasa disebut dengan Penghayat. Walaupun mereka berbeda agama dan kepercayaan tetapi masing-masing dari mereka tetap memegang teguh budaya Sunda. Hal ini terlihat dari adanya sinkritisme atau adanya perpaduan antara nilai-nilai budaya Sunda dengan nilai-nilai ajaran Agama Islam, Agama Katolik dan penghayat yang dianut oleh masyarakat Susuru. Misalnya pada saat masyarakat Dusun Susuru yang menganut Agama Katolik melakukan ritual ibadahnya, mereka menggunakan gamelan dan lagu-lagu yang berbahasa sunda. Begitu pula masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam. Mereka memasukan beberapa budaya Sunda dalam Ritual peribadatannya. Hal ini tidak berbeda dengan masyarakat Dusun susuru yang berkeyakinan sebagai penghayat, mereka melakukan ritual peribadatan berdasarkan nilai-nilai budaya Sunda seperti menghayati makna yang terkandung dalam “pupuh” atau cara berpakaian mereka menunjukan bahwa mereka sangat memelihara budaya Sunda dalam bentuk peribadatannya. Budaya Sunda pada masyarakat Dusun Susuru menjadi sebuah nilai yang menyatukan mereka walaupun jika dilihat dari agama dan kepercayaan mereka berbeda.

Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering dikenal dengan masyarakat religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “silih asih, silih asah dan silih asuh” (saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling melindungi). Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis dipertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.

Nilai-nilai budaya Sunda seperti kesopanan, rendah hati, saling menghormati antar sesama dan menyayangi kepada yang lebih muda yang dipelihara oleh masyarakat Dusun Susuru yang menjadikan masyarakat hidup dengan damai, tentram dan jauh dari konflik yang bernuansa sara.

      b.  Nilai-nilai kebangsaan

Masyarakat Dusun Susuru merupakan suatu kelompok masyarakat yang majemuk jika dilihat dari kepercayaan yang mereka anut. Jika melihat kondisi seperti ini, masyarakat Dusun Susuru mencerminkan masyarakat Indonesia secara umum yang majemuk. Dalam masyarakat majemuk sangat rentan terjadinya konflik terlebih kemajemukannya itu karena perbedaan Agama karena ini berawal dari keyakinan seseorang akan kebenaran. Sebuah masyarakat majemuk sangat memerlukan sebuah nilai yang dapat menyatukan mereka dan menjauhkan mereka dari konflik yang akan berakhir pada perpecahan yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri.

Perasaan se-bangsa dan se-negara merupakan salah satu nilai yang dapat mempersatukan masyarakat majemuk dalam suatu negara. Apapun latar belakang agama, kebudayaan, bahasa, suku bangsa maupun adat-istiadatnya akan merasa sebagai bagian dari sebuah kelompok masyarakat suatu negara jika diantara mereka mempunyai perasan se-bangsa dan se-negara. Di negara Indonesia yang masyarakatnya majemuk terdapat sebuah falsafah yakni Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu dalam kesatuan Republik Indonesia. Falsafah tersebut harus terus terpelihara untuk membangun masyarakat Indonesia yang majemuk namun dapat bersatu.

Selain nilai-nilai yang terkandung dalam “Bhineka Tunggal Ika” pada masyarakat Indonesia yang majemuk juga terdapat ideologi pancasila yang menjadi pemersatu masyarakat Indonesia yang majemuk tersebut. Ideologi pancasila lahir dari ideologi keagamaan, politik dan sosial. Dalam ideologi pancasila perbedaan dan pluralitas merupakan kekuatan untuk menyatukan masyarakat. kemajemukan, perbedaan dan pluralitas dilihat sebagai kekuatan perekat bukan unsur pemecah belah. Hal inilah yang menjadikan pancasila sebagai ideologi yang dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat di Indonesia.

Dalam ideologi pancasila juga tercermin tata nilai dan budaya yang dijalankannya. Nilai-nilai filosofis pancasila dapat dijadikan dasar untuk menjalani kehidupan di tengah masyarakat yang majemuk baik secara budaya, bahasa, adat-istiadat maupun agama. Pancasila dapat dijadikan suatu kekuatan untuk berperan sebagai pemersatu bangsa.

Berdasarkan hasil penelitian melalui teknik observasi dan wawancara mendalam dengan beberapa informan terlihat bahwa masyarakat Dusun Susuru memelihara falsafah “Bhineka Tunggal Ika” dan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila walaupun secara teoritis mereka tidak memahaminya. Masyarakat Dusun Susuru merasa bahwa walaupun mereka berbeda-beda agama dan keyakinan namun meraka tetap merasa bahwa satu-sama lain adalah saudara se-bangsa dan se-tanah air. Sehingga mereka dalam kehidupan bermasyarakat memperlihatkan sikap saling menghormati, menghargai dan menyayangi. Masyarakat Dusun Susuru tidak menganggap mayarakat Dusun Susuru yang berkeyakinan berbeda sebagai musuh yang perlu dijauhi. Nilai-nilai kebangsaan seperti itulah yang menjadikan salah satu yang memelihara kehidupan masyarakat Dusun Susuru yang aman, damai dan tentram tanpa adanya konflik yang dapat memecah-belahkan mereka.

Hal tersebut diatas dapat telihat ketika dari salah satu agama dan kepercayaan yang ada di Dusun Susuru melaksanakan peringatan-peringatan hari besar keagamaannya. Misalnya saja ketika Masyarakat Dusun Susuru yang beragama Katolik dan akan merayakan hari Natal. Pada malam harinya yang berjaga di Gereja adalah masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam dan Penghayat. Sementara mereka yang beragama Katolik melaksanakan Misa malam Natal masyarakat Susuru yang lainya berjaga-jaga diluar untuk menjaga keamannya dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Fenomena eratnya persaudaraan masyarakat Dusun Susuru juga terlihat ketika masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam membangun masjid. Dalam pelaksanaan pembangunannya masyarakat Dusun Susuru yang beragama Katoliuk dan Penghayat ikut bergotong royong membantunya. Begitu pula ketika Gereja Santo Simon dibangun. Tidak ada masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam maupun penghayat yang menolak pembangunannya. Namun, yang terjadi adalah masyarakat Dusun Susuru yang beragama Islam dan Penghayat tersebut ikut bergotong royong membantu pembangunan gereja tersebut.

J.  Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan diatas, kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut disimpulkan sebagai berikut :

a.    Dusun Susuru sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan.  Bagi mereka, ada hal yang penting untuk dipertahankan yaitu kebersamaan. Menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, bersikap toleran terhadap sesama masyarakat berbangsa dan bernegara sangat kental dalam setiap pribadi warga masyarakat Dusun Susuru. Masyarakat dusun Susuru lebih mengedepankan hidup berdampingan tanpa melihat perbedaan latar belakang agama dan kepercayaan masing-masing.

b.    Nilai-nilai budaya Sunda dalam kontek kehidupan beragama bagi masyarakat dusun Susuru dikolaborasikan dengan kebudayaan fisik maupun non fisik.  budaya fisik dan non fisik seperti seperangkat kesenian Sunda dengan tembang sunda menjadi pengantar dalam acara ritual penghayat atau katolik, sementara di kalangan masyarakat muslim menggunakan seperangkat kesenian Tagoni/rebana.

c.    Nilai-nilai Kebangsaan dan Nilai-nilai luhur Pancasila pada prinsipnya sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat Dusun Susuru, dilihat dari. masyarakat Dusun Susuru yang memelihara falsafah “Bhineka Tunggal Ika” dan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila walaupun secara teoritis mereka tidak memahaminya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi, 2008, Studi Etnografi dan Folklore, UGM Press, Yogyakarta.

Halpenny, P1984, Principle of Method, New York, Longman.

Harrison, Lissa, 2007, Metodologi Penelitian Politik (terj.), Cet I, Kencana Prenada, Jakarta.

Keesing, Roger M1999. Antropologi Budaya, Suatu Perspektif Kontemporer Edisi Kedua, Erlangga,Jakarta.

Koentjaraningrt, 1997, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan, Jakarta.

Marsh, David and Stoker, 2002,Theory and Methode in Political Science : Second Edition, Palgrave, Macmillan.

Makasim, Luthfi, 2007, Agama dan Budaya Politik, Sufisme dan Habitus Politik Masyarakat Banyumas, Swara Politika, Unsoed, Purwokerto.

Moleong, Lexi 1989, Metode Penelitian Kualitatif,  PT Erlangga, Jakarta.

Muhadjir, Nung1998, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi III,  Penerbit Rake Sarakan, Jakarta.

Mulyana, Deddy 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Priyatno dan Trubus. 2004. Etika Kemajemukan : Solusi Strategis Merenda Kebersamaan dalam Bingkai masyarakat Majemuk, Penerbit Univ. Trisakti, Jakarta

Shadilly, Hassan1984, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Spradley, James 1979, The Ethnographic Interview, Holt, Rinehart and Winston, New York.

Usman Pelly,  Pengukuran Intensitas Konflik Dalam Masyarakat Majemuk,

 

DESAKU YANG KUCINTA

Tags

, , , , , , ,

Desaku yang Kucinta…

Desaku yang kucinta

Pujaan hatiku

Tempat ayah dan bunda

dan handaitaulanku

Tak mudah kulupakan

Tak mudah bercerai

Selalu kurindukan

Desaku yang permai…

Sepenggal lagu tersebut mengingatkan kita akan keadaan sebuah desa yang masih asri, tempat kelahiran yang kita banggakan, tempat menetap ayah dan ibu kita, tempat kita merasakan keriangan semasa kecil. Itulah desa yang selalu dirindukan anak-anaknya.

(Ch. Enung Martina)

PERAYAAN NATAL 2012

Tags

, , , , , , , , , , ,

Perayaan Natal 2012 di Dusun Susuru, Desa Kertajaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, diadakan tepat pada hari Rabu, 25 Desember 2012. Perayaan diawali dengan Perayaan Ekaristi (ibadat) di Gereja Katolik /kapel Santo Simon Petrus. Nampak umat Katolik memenuhi ruangan Gereja. Banyak pula umat yang biasanya berada di kota hadir pula pada perayaan kali ini.

Ketika umat katolik beribadat, mulailah warga  lain berdatangan memenuhi pelataran Gereja. Warga yang datang adalah umat non-katolik yang akan memberikan ucapan natal pada umat Katolik. Tak mau ketinggalan para pejabat tingkat dusun, desa, dan kecamatan pun hadir untuk memberi ucapan selamat.

Selesai ibadat digelar, warga dan para pejabat yang sudah dari tadi menunggu, segera memberikan ucapan selamat natal. Umat Katolok dan non-Katolik melebur menjadi satu dalam acara makan siang bersama. kerukunan dan persaudaraan sangat terasa dalam acara ini.

Posted by: Ch. Enung Martina

natal 2012

natal 2/ 2012

DIGITAL CAMERA

DIGITAL CAMERA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.